Jamasan Perkutut Katuranggan di Kota Madiun, Merawat Tradisi Menghidupkan Budaya
Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan tradisi jamasan perkutut katuranggan yang digelar Komunitas Pecinta Perkutut (Pecintut) Kota Madiun bertepatan dengan 1 Suro atau 1 Muharam, Selasa (16/6/2026). Tradisi yang sarat nilai budaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Grebeg Suro 2026 sekaligus Hari Jadi Kota Madiun ke-108. Juga bagian dari upaya melestarikan warisan leluhur yang mulai jarang dikenal generasi muda. Ratusan pecinta burung perkutut dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Selain lomba perkutut anggungan, acara puncaknya melalui prosesi jamasan atau memandikan burung perkutut katuranggan. Ketua Panitia Jamasan Perkutut Katuranggan, Iwan Yudhi Atmoko, menjelaskan bahwa tradisi tersebut memiliki makna khusus bagi para penghobi perkutut. “Pada hari ini kami menggelar acara jamasan perkutut katuranggan. Rangkaiannya sebenarnya sejak pagi tadi sudah ada lomba perkutut anggungan, dan puncaknya pada sore hari ini kita melakukan jamasan atau memandikan burung perkutut”. “Burung perkutut ini dimandikan karena memiliki kekhususan dan kekhasan. Punya ciri-ciri dan punya tuah yang diyakini memiliki kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari”.